Pengalaman Uji KIR Mobil Pribadi Di Prancis

Uji KIR atau keur (bahasa belanda: pemilihan) merupakan serangkaian uji teknis sebuah kendaraan agar laik jalan dan memenuhi unsur keselamatan yang sudah ditetapkan dalam peraturan lalu lintas. Di Indonesia KIR setahu saya diberlakukan hanya untuk kendaraan berpelat nomor kuning, yaitu kendaraan umum seperti bis taksi angkot dan kendaraan niaga seperti truk dan mobil pick up.

Namun di negara-negara maju seperti halnya di Prancis KIR diberlakukan untuk semua jenis kendaraan baik umum maupun pribadi kecuali sepeda motor. Uji KIR yang  bernama Contrôle Technique ini  diwajibkan untuk mobil pribadi yang berumur lebih dari 3 tahun. Lebih spesifik lagi sebuah mobil harus melakukan uji KIR pertamanya sebelum ulang tahunnya yang keempat, lalu berikutnya wajib dilakukan setiap dua tahun sekali. Bahkan untuk kendaraan berat dan kendaraan umum lebih ketat lagi, uji KIR dilakukan setiap enam 6 bulan sekali.

Uji KIR disini dilakukan oleh pihak swasta yang sudah memiliki ijin untuk membuka layanan uji KIR. Biasanya tempat uji ini berupa seperti bengkel namun mereka tidak melayani perbaikan mobil namun khusus untuk uji KIR saja.

Mobil saya Nissan Micra yang kebetulan memiliki tahun kelahiran 2004 sudah pasti harus diuji juga dan akhir bulan ini adalah jatuh tempo terakhir untuk diuji. Oh ya, disini ketika anda memiliki kendaraan dan anda ingin menjualnya maka anda diwajibkan untuk memiliki hasil KIR kurang dari 6 bulan sebagai syarat administrasi jual beli.

Kembali ke mobil saya, setelah melakukan penelitian kecil-kecilan di internet mengenai tempat uji KIR dengan harga  ‘bersahabat’ akhirnya saya menemukan uji KIR dengan harga relatif murah dibandingkan dengan tempat lainnya. Harganya sendiri bervariasi tergantung pihak bengkel tapi biasanya berkisar antara 50 euros hingga 90 euros, tempat yang saya temukan memasang tarif 59 euros, lumayanlah saya pikir apalagi lokasinya tidak terlalu jauh dari tempat tinggal saya.

Sebelum hari H pengujian, saya mengecek terlebih dahulu mobil  saya sebisa mungkin agar lulus uji, karena kalau kita tidak lulus uji maka harus dilakukan uji ulang dengan tenggat waktu maksimal 2 bulan agar pemilik mobil bisa memperbaiki bagian yang kurang layak atau tidak berfungsi normal.

Dalam pengujian sendiri ada beberapa poin yang diuji, ‘beberapa’ disini lebih detailnya adalah 124 poin yang harus diuji diantaranya mencakup;

point_controle

  1. Identitas kendaraan (kondisi no plat mobil, no rangka harus jelas terbaca)
  2. Rem (sistem rem keseluruhan, ketebalan kampas rem, rem tangan, sistem abs termasuk minyak rem)
  3. Sistem kemudi (sistem kendali keseluruhan seperti stir, komponen ball joint dan tie rod dll)
  4. Daya Pandang (kaca depan, jendela pintu, kaca belakang termasuk spion harus dalam kondisi bagus)
  5. Penerangan (lampu utama, lampu kecil, lampu sen, lampu rem, lampu darurat dan lampu plat nomor harus berfungsi)
  6. Suspensi (sistem suspensi keseluruhan, kondisi ban, per, shockbreaker, stabilisator, perpuataran roda)
  7. Bodi mobil (bodi mobil keseluruhan, pintu, pintu bagasi, kap mesin,bemper depan belakang)
  8. Perlengkapan (jok, sabuk pengaman, klakson,spedometer dan kelengkapan lainnya)
  9. Mesin (cek visual mesin, cek kebocoran oli, karburator/injeksi, kebocoran bensin, dudukan baterai dll)
  10. Emisi (uji emisi, kondisi saluran pembuangan knalpot, suara)

Dari semua poin tersebut ada beberapa poin yang sangat vital dan apabila gagal harus diuji ulang atau disini dinamakan ‘contre-visite’  yang mana harus dilakukan pengujian ulang yang dilakukan hanya pada poin yang gagal sebelumnya. Poin tersebut adalah kondisi plat nomor, sistem  rem, lampu-lampu, sabuk pengaman, kondisi ban dan saluran pembuangan knalpot termasuk hasil uji emisi.

Video singkat proses uji kendaraan di Prancis

Mobil saya sendiri setelah dilakuan pengujian selama kurang lebih setengah jam dan ternyata hasilnya… tidak lulus saudara-saudara. Lampu plat nomor mendadak mati kena air, tapi ini tidak terlalu masalah saya bisa ganti bohlam langsung. Lalu ini yang bikin pusing menurut hasil uji polusi, mobil saya mengeluarkan CO (carbonmonoksida) jauh diatas batas toleransi, normalnya 0,3 persen sedangkan mobil saya 5,4 persen! Bingunglah saya karena hasil uji dua tahun sebelumnya hasilnya normal-normal saja, dalam pikiran saya masa dalam rentang waktu dua tahun mesin bisa berubah banyak padahal saya termasuk pengemudi yang biasa-biasa saja dan mobil bukan di pakai balap..

Tapi sudahlah  sang penguji sendiri bingung dan curiga ada sesatu yang tidak beres dengan mobil saya mengingat mobil saya relatif tidak tua-tua banget. Akhirnya saya dikenakan ‘contre-visite’  dengan diberi waktu maksimal 2 bulan untuk diperbaiki dan untuk di uji kembali nanti. Apabila lewat dua bulan maka harus diuji lagi secara keseluruhan.

Selain itu dari kertas hasil uji saya temukan juga kalau lampu utama sebelah kiri terlalu rendah sorotan lampunya, plastik spakbor bagian dalam sebelah kanan ada retak dan harus diperbaiki. Namun untungnya tidak memerlukan ‘contre-visite’ artinya saya punya waktu dua tahun untuk memperbaikinya.

Dalam perjalanan pulang saya sempat bertanya ke beberapa bengkel mengenai ‘kegagalan’ uji KIR saya. Beberapa bengkel menyarankan untuk di cek terlebih dahulu secara lengkap agar mengetahui sumber masalahnya ada dimana, tapi mereka juga sempat menyebut beberapa komponen yang dituding biasanya biang gagalnya uji emisi seperti catalytic converter atau sensor oksigen/lambda. Saya memutuskan pikir-pikir dahulu karena bengkel disini mematok tarif yang lumayan mahal bahkan hanya untuk cek saja apalagi kalau dilengkapi dengan embel-embel ‘keseluruhan’.

Tiba di rumah saya penasaran langsung mengecek di internet penyebab gagalnya uji emisi kadar CO yang berlebihan. Beberapa penyebab paling umum memang diantaranya catalytic converter yang gagal berfungsi, atau ada masalah dalam pembakaran yang tidak sempurna didalam mesin.

Selain itu saya juga menaruh curiga kemungkinan ada hubungannya dengan penggantian sensor oksigen yang saya lakukan satu tahun yang lalu, karena berdasarkan info yang saya temukan di paman google bahwa mobil yang dilengkapi dengan otak elektronik biasanya setelah penggantian baterai atau penggantian komponen emisi seperti sensor oksigen ini akan membuat komputer mobil (ECU) melakukan self diagnostic terutama untuk komponen-komponen yang berhubungan dengan emisi seperti Catalytic Converter atau sensor oksigen dengan tujuan agar komputer bisa mendeteksi apakah perbaikan sudah dilakukan dan komponen yang sudah diganti bisa berfungsi normal. Sistem ini setahu saya hanya dimiliki oleh kendaraan dengan tahun kelahiran diatas 1996.

IMAG2390Ternyata setelah saya cek menggunakan alat pindai OBD II buatan cina yang saya beli di Ebay beberapa bulan lalu, akhirnya diketahui (kemungkinan) penyebab kenapa mobil saya mengeluarkan CO berlebihan. Mobil saya terdeteksi masih dalam prose Drive Cycle. Bah, istilah apa lagi itu? Jadi sejak saya mengganti sensor oksigen tahun lalu ECU mobil masih belum mendeteksi perubahan komponen, karena setelah saya cek dengan alat pindai ODB ada dua komponen sensor yakni catalytic dan sensor oksigen yang masih dalam status ‘not ready’.

Untuk mencapai status ‘ready’ saya harus mengendarai mobil dengan pola tertentu agar ‘drive cycle’  yang diharuskan tercapai. Caranya adalah menurut info yang saya temukan di internet, pada saat pagi hari atau setelah mobil mati lebih dari 6 jam saya harus menyalakan mesin dan dibiarkan langsam selama dua setengah menit sambil menyalakan AC dan pemanas kaca belakang. Setelah itu matikan AC dan pemanas kaca lalu kendarai mobil hingga kecepatan mencapai 88 -90 km/jam konstan selama 5 menit dengan posisi gas jangan dilepas dan jangan pula terlalu ditekan penuh. Untuk melakukan ini saya terpaksa harus melakukannya di jalan bebeas hambatan dan dalam kondisi lalu lintas tidak terlalu ramai (malam hari).

Kemudian setelah itu (ini yang agak rumit) saya harus membuat mobil berhenti hingga benar-benar berhenti tanpa menginjak rem, caranya saya memindahkan posisi gigi ke posisi rendah sambil menarik rem tangan. Saya lakukan ini di jalur darurat di pinggir tol. Pastikan jika anda ingin melakukan hal yang sama perhatikan keselamatan pengguna jalan lain. Ketika saya melakukan proses ini kebetulan tidak banyak mobil yang lewat.

Ketika sudah benar-benar berhenti kemudian saya biarkan langsam selama 1 menit lalu kemudian maju kembali dengan mengemudi normal. Ketika saya sampai rumah saya matikan mesin, dan langsung saya cek mengggunakan alat pindai saya  dan ternyata voilacatalytic convert dan sensor oksigen  statusnya  berubah menjadi status ‘ready’. Uniknya ketika besoknya saya pakai mobil saya merasa mesin lebih halus dari sebelumnya, mungkin campuran udara dan bahan bakar saat ini pas komposisinya.

Mudah-mudahan setelah ini saya akan lulus uji KIR susulan yang mana akan dilakukan dalam beberapa minggu lagi.  Begitulah cerita pengalaman saya uji KIR di Prancis, memang agak rumit namun tujuannya memang bagus yaitu agar keselamatan berlalu-lintas lebih terjamin.

You might also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *